Kamis, 22 November 2012

Kompetisi Menulis Tulis Nusantara Berhadiah 112,5 Juta Rupiah FLP Aceh | 26 November 2012


Kemenparekraf bekerjasama dengan NulisBuku.com & Plot Point mengadakan kompetisi menulis Tulis Nusantara 2012 – dengan tema: Menangkap ragam cerita hidup di Indonesia, serta workshop Menulis di 12 Kota di Indonesia.
Kategori penulisan:

Fiksi Cerpen
Fiksi Puisi
Non-Fiksi
Hadiah

Fiksi Cerpen. Juara I: Rp 20.000.000, Juara II: Rp 15.000.000, Juara III: Rp 10.000.000.
Fiksi Puisi. Juara I: Rp 10.000.000, Juara II: Rp 7.500.000, Juara III: Rp 5.000.000.
Non-Fiksi. Juara I: Rp 20.000.000, Juara II: Rp 15.000.000, Juara III: Rp 10.000.000.

3 buku kumpulan fiksi dan non-fiksi hasil kompetisi Tulis Nusantara 2012 akan diterbitkan secara major!

Cara berpartisipasi

Menulis sesuai tema ‘Menangkap Ragam Cerita Hidup di Indonesia’ dalam bentuk puisi, cerpen (Fiksi) maupun cerita nyata (Non-Fiksi) yang memotivasi pembaca untuk mengetahui lebih banyak tentang keragaman di Indonesia dan mempromosikan baik ke dalam maupun luar negeri.
Untuk cerpen (fiksi) dan cerita nyata (Non-Fiksi), panjang tulisan 5-9 halaman A4 dengan 1,5 spasi, Font Times New Roman, ukuran 12 pt.
Kirimkan naskah beserta data diri (berupa attach files, bukan di body e-mail): Nama, Alamat, No. handphone, No. KTP, Twitter account (Jika ada), Alamat facebook (Jika ada), ke alamat email: tulisnusantara@gmail.com dengan format subject email: [Kategori] – [Judul tulisan]. Contoh: Non-Fiksi – “Cerita dari Banyuwangi”
Follow & mention akun Twitter @tulisnusantara untuk mempromosikan tulisan yang telah dikirim dengan hashtag #TulisNusantara
Periode lomba: mulai dari 17 November 2012 hingga 15 Desember 2012, naskah diterima paling lambat jam 23:59 WIB pada tanggal 15 Desember 2012.
Untuk mengikuti kompetisi ini tidak dipungut biaya, GRATIS!
Pengumuman pemenang & penyerahan hadiah akan dilakukan pada tanggal 22 Desember 2012 (Awarding Night).
Syarat Umum

Peserta adalah warga negara Indonesia
Usia peserta dibatasi minimal 17 tahun ke atas

Senin, 05 November 2012

3 Tips Menulis Cerpen dari Hemingway


Ernest ‘Papa’ Hemingway sedari awal melawan ‘gaya rumit’ teknik menulis cerpen abad ke-19. Papa berfokus pada cerita (pesan yang ingin disampaikan) dan menghindari kebingungan pembaca.
Kalimat yang tidak berkontribusi penting dianggap ‘kotoran’. Harus dibuang.
Papa memilih kata lugas yang lansung menuju ke titik sasaran. Anda masih ingat dengannovel 6 kata : For Sale; babys shoes. Never worn.
Lalu bagaimana cara Hemingway menyederhanakan tulisan ?

1. Kalimat Singkat

Penulis yang baik berusaha memudahkan pembaca menangkap pesan cerita. Untuk ituHemingway menyarankan memakai kalimat-kalimat pendek. Kalimat panjang berarti anda memakai tanda koma terlalu banyak.
Kalimat pendek rata-rata berjumlah 10 kata atau kurang  Pangkas kata sifat dan kata keterangan yang tidak ekonomis. Biasakan memilih kata ‘dan’ ketimbang tanda ‘koma’.
Contoh sederhana kalimat pendek umumnya berpola S-P-O.
Mengapa kalimat pendek ?
Otak manusia punya keterbatasan dalam mencerna kalimat panjang dan lebih mudah menyerap informasi dalam bentuk kalimat pendek.
Kalimat majemuk menunjukkan kesulitan penulisnya merumuskan gagasan. –> Tweet This
Pembaca tidak peduli seberapa kaya kosa kata anda. Pembaca akan berhenti bila merasa tidak bisa terhubung dengan cerpen anda.

2. Paragraf Pendek

Idealnya tiap paragraf hanya berisi satu ide pokok. Cara ini membantu pembaca mencerna informasi.
Otak manusia menerima informasi yang lebih baik ketika itu dipecah menjadi potongan kecil. –> Tweet This
Paragraf pendek tercipta dengan sendirinya bila kita menulis dengan jelas dan mudah dimengerti.
Paragraf panjang tercipta bila penulis tergoda untuk menunjukkan kepada pembaca, betapa luas pengetahuan yang dimilikinya.
Cerita pendek Papa terlihat memotong dengan cepat dari satu adegan ke adegan yang lain (sinematik). Ini membuat deskripsi dan narasi minim jatah dalam contoh cerpen Hemingway.
Papa menghindar memberitahu segala hal yang dia tahu kepada pembaca. Papa memberi tahu kurang dari yang sebenarnya dia tahu. Secara khusus, Papa menggambarkan teknik ini dalam teori ‘gunung es’;
1/8 fakta-fakta keras melayang di atas air. Sementara 7/8 bagian cerita berupa struktur pendukung, lengkap dengan simbolisme, berada jauh di kedalaman.
Papa pada dasarnya menceritakan apa yang tokoh-tokohnya lakukan (adegan) dan katakan (dialog). Bukan apa yang mereka pikir dan rasakan.
Dengan kata lain, Papa memberitahu pembaca tanpa benar-benar memberi tahu mereka  Show don’t tell.

3. Kalimat Positif

Kalimat positif mudah dicerna. Pada dasarnya itu adalah cara mengatakan tentang sesuatu secara lansung daripada memilih mengatakannya dengan cara berlawanan. Contohnya :
  • Kalimat positif : Pedagang K5 menolak rencana penggusuran.
  • Kalimat negatif : Pedagang K5 tidak menerima rencana penggusuran.
Kalimat positif terasa lebih ringan dan memudahkan pembaca memahami ide-ide yang direpresentasikan.

http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/comment-page-1/#comment-901

Volunteer Jadi Fungsionaris




Latihan pada Kamis kedua oleh WARKOP DKI PGSD Unnes kemarin tak berlangsung di Kandang Sapi PGSD Unnes seperti biasa lantaran kondisi lapak yang kurang mendukung. Akhirnya latihan rutin diadakan di ruang 15. Semangat dan  antusiasme fungsionaris beserta anggota dan simpatisan WARKOP DKI PGSD pada pertemuan itu semakin memperlancar jalannya latihan rutin pada tanggal 1 November 2012